Semangkuk Soto | Manifestasi Kelimpahan dari Tangan-Tangan Kecil
Temukan rahasia manifestasi kelimpahan dari hal sederhana. Pelajari makna spiritualitas & energi hanya di jalankekayaan.com. Baca selengkapnya!
Oleh : Arta Senja
Mari saya ajak Anda kembali ke sebuah kantin Sekolah Dasar, tiga puluh tahun silam.
✨Suatu Pagi itu di Atas Kursi yang "Terlalu Tinggi"
Seorang anak perempuan mungil berteriak lantang, "Beli soto satu dan es teh!". Ia harus berjuang keras hanya untuk duduk di kursi kantin yang tinggi itu. Kakinya yang menggantung digoyang-goyangkannya dengan riang - sebuah tarian syukur yang murni. Di sampingnya, sebuah kresek merah besar ia jaga seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia.
Ia makan dengan lahap, menuangkan tiga sendok sambal tanpa ragu, tanpa butuh lauk tambahan. Kuah soto itu dihabiskan sampai tetes terakhir. Saat tiba waktu membayar, ia merogoh sakunya. Enam koin ia hitung satu per satu.
Setelah membayar, ia kembali memanggul kresek merahnya yang besar itu. Karena tubuh mungilnya tas kresek tampak terseret dijalanan.
✨Filosofi "Mengupas Kacang": Kerja Adalah Ibadah, Lelah Adalah Berkah.
Ku ikuti kemana langkah anak kecil itu, sekitar 500 meter dia berhenti di rumah kayu dengan lantai padas kuning. Sampai dirumah anak kecil itu segera menemui ibunya dan menyerahkan sejumlah uang padanya. Ibunya menghitung uang yang dibawa anaknya, dan anak itu diberi satu koin sisanya, sepertinya itu upah dari dia membawa tas kresek tadi.
Aku penasaran, kudatangi ibu itu, “selamat siang Ibu, kenalkan saya guru baru di SD putri Ibu” kataku, “Oiya monggo-monggo Bu Guru silakan masuk, apakah ada masalah dengan anak saya?” tanya ibu yang terlihat masih sangat muda. “Tidak Ibu, saya hanya mau menanyakan putri Ibu selalu membawa barang banyak ke sekolah, kalau boleh tahu apa yang dibawanya? Sepertinya dia cukup kesulitan membawanya?”, tanyaku.
“O..itu kacang bawang Bu guru, anak saya ada 8, dia ragil. Setiap hari membantu menjualkan kacang bawang ke warung warung, buat nambah uang saku. Kakak kakaknya juga begitu Bu. Cuma jarak warungnya lebih jauh,” terangnya.
“Sekarang putri Ibu sedang apa?” tanyaku. "O.. dia pasti sedang gabung sama kakak-kakaknya di dapur. Dah biasa kalo pulang sekolah masing-masing anak harus ngupas kacang rebus minimal 5 piring Bu. Yah..sambil buat mainan” terang ibu itu sambil tersenyum.
Saat mendengar ceritanya rasanya seperti eksploitasi anak. Tapi kulihat wajah anak kecil itu saat di kantin terlihat bahagia dengan kesibukannya. Aku minta ijin untuk menemuinya dan sang ibu mengajakku masuk ke dapur yang masih berlantai tanah. Terlihat 3 anak duduk mengintari baskom penuh dengan air warna merah keruh, masing-masing anak memegang piring dari seng dan mereka saling bercanda berlomba mengupas kacang rebus dihadapannya. Tampak jari-jari tangan mereka yang berkeriput karena rendaman air. Namun wajah anak-anak itu tiada beban.
Keesokan harinya kutunggu anak kecil itu masuk ke kantin, namun dia tak kunjung datang, hingga di hari keenam barulah kulihat anak kecil itu memesan lagi.
“Beli Soto satu dan es teh” teriaknya. Kembali 3 sendok sambal dituangkannya dan mulai makan dengan lahap. Selesai makan masih dengan membawa tas kresek besarnya, dia pulang. Aku mulai berfikir, jadi selama ini anak itu tengah mengumpulkan koin yang didapatnya dari hasil penjualan kacang bawangnya. Untuk mendapatkan semangkok soto dia harus mengumpulkan 6 koin dalam 6 hari. Aku mengerti sekarang.
Tiga puluh tahun berlalu, aku buka instagramku, ada pertemanan denganku, kubuka nama itu Yuni Indarti. Ini nama anak kecil itu. Kulihat postingannya.. dan aku terpana, dia kini menjadi seorang pengajar(....). Wajahnya tak asing, dia anak kecil itu. Anak yang rajin dan pekerja keras. Berkat ketekunannya dia mampu meraih cita-citanya.
.jpeg)