0002. Tujuh Bersaudara, Tapi..
Artikel ini berisi dua cerita dalam sesi curhat off line tentang saudara dan orang tua. Semoga kalian bisa mengambil pelajarannya.
Sesi curhat (offline) kali ini datang dari teman dekat.
Jadi ceritanya dia punya istri dan istrinya tujuh bersaudara. Iya ini tentang saudara istrinya.
Mungkin ceritanya tidak sama persis seperti atau selengkap yang aku dengarkan waktu itu. Tapi yang lebih penting adalah pelajaran apa yang bisa kita ambil dari curhatan ini.?.
Istrinya anak bungsu. Ya kalian tahu sendiri, anak bungsu, apalagi cewek biasanya jadi "sasaran" merawat orang tua. Dari 6 saudara istrinya hanya satu kaka perempuan yang agak waras. Iya agak waras karena tiap kali Bapak Mertua temenku sakit, ya temenku ini yang mengantar ke Ruamah Sakit.
Dimana agak warasnya??. Dari enam saudaranya, hanya satu kaka perempuan yang kadang keluar uang bensin untuk motor temanku, padahal semua saudara istrinya tahu keuangan temanku sedang tidak baik-baik saja.
---------------
Cerita temenku (yang ke-2) ini agak mirip dengan curhatan temanku di atas.
Dia anak pertama (cowok) dari lima bersaudara. Keadaannya yang sulit membuatnya terpaksa tinggal serumah dengan orang tuanya (anak yang lain gak serumah). Dari Empat saudara yang tidak serumah itu, tiga anak rutin tiap bulan menyisihkan sebagian rezeki buat orang tuanya, hanya seorang yang gak ngasih.
Dengan keadaan ke dua orang tua yang kondisi fisiknya lemah (sering sakit), temanku ini selalu siap, gak pernah bantah apapun perintah orang tuanya, termasuk suruh mijit saat Bapaknya sakit. Tapi ya karena Bapaknya hanya berfikiran duit sebagai acuan berbakti, ya anak yang ada di rumah ini suka di banding-bandingkan dengan anak lain yang memberi fulus.
Aku tanya "dari tiga saudaramu itu berapa masing-masing memberi uang?". Temenku bilang (nominal ter-rendah) salah seorang saudaranya menyisihkan 500 ribu dari gajinya untuk diberikan ke orang tuanya, karena memang gajinya hanya UMR.
Gumamku dalam hati kepada temanku
"Andai saja Bapak temenku bisa berpikiran lebih luas (agak waras), dengan kondisi kedua orang tua yang lemah (sering sakit) jika temanku gak tinggal serumah dan rutin menyisihkan gajinya tiap bulan 1 juta, itu bukan apa-apa jika dibanding temanku ada di rumah walau tidak memberi uang sepeserpun".
Iya satu juta itu bukan apa-apa karena aku tahu sendiri (pernah main ke rumah temanku), aku saksikan sendiri seperti apa temprament Bapaknya. Aku belajar spiritual (energi) dan jadi tempat curhat yang membuatku secara otomatis jadi agak paham tentang psikologi. Dari gaya bahasa, gesture dan energi yang kurasakan langsung tergambar seperti apa keseharian temanku dirumah dengan Bapaknya. Bagaimana dia selalu jadi sasaran emosi yang emosi itu datang dari tempat lain atau orang lain diluar rumah. Paham kan kalau temenku gak ada di rumah Bapaknya yang hobby marah-marah ngeluapin emosinya ke siapa?, iya bener yang tadinya terbagi dua, kalau gak ada temanku jadi full ke istrinya (Ibu temanku).
*Gumam (menurut KBBI) adalah suara atau omongan yang tertahan dalam mulut. Seringkali pelan atau tidak jelas.
Dari dua cerita diatas setidaknya pelajaran yang bisa di ambil adalah, memberi atau berbakti itu gak harus dengan harta, bisa juga dengan waktu, perhatian, atau tenaga.
